Nepal — 27 Agustus 2026. Bencana dahsyat melanda wilayah pegunungan Nepal dekat perbatasan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026. Banjir bandang yang disertai aliran lumpur, batu, dan material longsoran menerjang kawasan permukiman serta berbagai infrastruktur, menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Menurut laporan terbaru, sedikitnya 162 orang meninggal dunia, sementara ratusan lainnya masih belum ditemukan. Tim penyelamat terus melakukan pencarian terhadap para korban yang kemungkinan tertimbun material atau terseret arus.
Diduga Berawal dari Runtuhnya Gletser
Peristiwa ini terjadi di kawasan Himalaya, sekitar wilayah Rasuwa dan daerah-daerah yang berada di sepanjang aliran sungai menuju kawasan yang lebih rendah.
Para ahli yang menganalisis citra satelit mengatakan bagian bawah sebuah gletser diduga runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter. Runtuhan tersebut membawa es, batu, dan sedimen dalam jumlah besar menuju lembah.
Material yang jatuh kemudian masuk ke sistem sungai dan menghasilkan aliran air serta debris yang bergerak sangat cepat. Fenomena inilah yang kemudian menyebabkan banjir bandang dengan daya rusak luar biasa.
Penyebab pasti runtuhnya gletser masih diteliti. Pada awalnya muncul dugaan bahwa gempa bumi berkekuatan sekitar 4,4 dapat menjadi pemicu. Namun, analisis lanjutan dari US Geological Survey menunjukkan bahwa sinyal seismik yang semula dianggap sebagai gempa ternyata lebih konsisten dengan energi yang dihasilkan oleh longsoran.
Air dan Material Lumpur Menghantam Wilayah di Bawahnya
Besarnya material yang masuk ke sungai membuat aliran air berubah menjadi campuran air, lumpur, batu dan puing.
Gelombang tersebut kemudian bergerak mengikuti lembah dan aliran sungai, menghantam sejumlah wilayah di sepanjang jalurnya.
Jalan, jembatan, rumah, serta berbagai fasilitas lainnya dilaporkan mengalami kerusakan atau tersapu oleh aliran deras. Beberapa proyek pembangkit listrik tenaga air di kawasan terdampak juga mengalami kerusakan.
Pusat bencana berada di kawasan pegunungan yang memiliki akses sulit. Kondisi tersebut membuat operasi penyelamatan menjadi semakin rumit.
Ratusan Orang Masih Hilang
Selain warga setempat, sejumlah warga negara asing yang berada di kawasan tersebut juga dilaporkan belum ditemukan.
Pada saat bencana terjadi, kawasan tersebut menjadi jalur perjalanan bagi wisatawan dan peziarah yang menuju wilayah Himalaya. Karena itu, pencarian tidak hanya dilakukan terhadap penduduk lokal tetapi juga terhadap sejumlah orang asing yang keberadaannya belum diketahui.
Tim kepolisian dan militer Nepal dikerahkan untuk melakukan pencarian. Helikopter juga digunakan untuk memantau wilayah terdampak dan membantu proses evakuasi, meskipun kondisi medan dan kerusakan akibat banjir membuat operasi penyelamatan tidak mudah.
Sungai Berubah Menjadi Jalur Banjir Mematikan
Besarnya energi banjir membuat material berupa batu dan sedimen terbawa jauh mengikuti aliran sungai.
Menurut laporan Reuters yang mengutip pusat penelitian kawasan Himalaya, ketinggian air di salah satu lokasi di hilir dilaporkan meningkat hingga sekitar 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.
Kecepatan perubahan kondisi tersebut membuat orang-orang yang berada di sekitar sungai hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelamatkan diri.
Upaya Pencarian Masih Berlangsung
Sehari setelah bencana, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan. Petugas menyisir wilayah yang terdampak untuk mencari korban yang selamat maupun mereka yang masih dinyatakan hilang.
Besarnya jumlah material yang menutup kawasan terdampak membuat proses pencarian membutuhkan waktu. Sementara itu, pihak berwenang terus memperbarui jumlah korban karena masih banyak orang yang belum diketahui keberadaannya.
Bencana ini kembali menunjukkan betapa berbahayanya kombinasi antara kondisi pegunungan, gletser yang berubah, longsoran, dan hujan musiman di kawasan Himalaya.
Dengan pencarian yang masih berlangsung, jumlah korban kemungkinan masih dapat berubah dalam beberapa hari ke depan.
0 Komentar